Kitab Negarakertagama: Teks dan Terjemahan

 

Pernahkah anda membayangkan, bagaimana bisa kita yang berbeda suku (bangsa), bahasa dan tersebar di ribuan pulau pada wilayah yang panjang bentangan luasnya melebihi bentang luas benua Eropa bisa menjadi satu bangsa? Semuanya tak dapat dilepaskan dari perkara yang telah terjadi di masa lampau. Sejarahlah yang membuat kita berdaulat sebagai satu bangsa. Oleh para pendiri bangsa, para anak-anak muda (jong) dalam satu forum telah mendeklarasikan diri, bersumpah untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai lahirnya Soempah Pemoeda[1] . Maka pantaslah jika kita harus senantiasa mengenang, mengingat-ingat jasa perjungan para pahlawan, pendiri bangsa kita bahwa kitalah generasi pewaris, pemegang mandataris yang sah negeri ini.
Continue reading

Advertisements

Kritis Ala La Bolontio

Alkisah di suatu negeri bernama Bharata hiduplah seorang pemuda bernama La Bolontio. La Bolontio hidup di era/abad milenium – istilah yang merepresentasikan era pasca tahun 2000. Sebenarnya kurang tepat kalau istilah milenium hanya disematkan pada tahun 2000an saja karna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) milenium memiliki arti masa atau jangka waktu seribu tahun. Lebih tepatnya pasca tahun 2000 disebut era milenium ketiga (tahun 1-999 adalah milenium pertama, 1000-1999 milenium kedua, dan seterusnya). Entah bagaimana istilah ini menjadi lazim digunakan. Mungkin saja karena faktor seringnya istilah ini digunakan oleh media atau mungkin karena pengaruh film superhero lokal yang trend di awal tahun 2000an, Saras 008 yang memiliki gelar heroik, pahlawan milenium.

Continue reading

Pandji, Seniman, dan Politik

Seniman. Tidak hanya menghibur masyarakat. Lebih dari itu, mereka sangat dibutuhkan untuk membantu, menjaga bahkan menciptakan peradaban sosial dan budaya di masyarakat. Peran-peran ini terekspresi dari karya dan aksi-aksi mereka untuk menyuarakan fenomena, pesan, bahkan juga tangisan masyarakat.

Continue reading

Selamat Berkongres!

Manusia Adalah Anak Zaman


Beberapa hari terakhir, di antara pemberitaan nasional lainnya (pemerintahan, freeport, penyadapan, DPR), perhelatan kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cukup meramaikan pemberitaan nasional. Sebenarnya, sejak awal pelaksanaan kongres HMI ke-29 yang berlangsung di Pekanbaru ini telah menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan, baik dari kalangan internal HMI sendiri maupun dari non-HMI. Media juga memiliki peran menambah atmosfer euforia kongres. Selanjutnya muncul cemohan pada perhelatan kongres di media sosial tentang besaran anggaran kongres dan serangkaian ulah peserta kongres yang menimbulkan permasalahan dan kekisruhan menjelang perhelatan. Lebih ekstrim, bahkan muncul gerakan media sosial dengan hastag #bubarkanHMI.

Continue reading

Pindahkan Saja Ibukotanya, Biar Ramai!

Ya, kalimat di atas seharusnya, “Pecahkan saja gelasnya, biar ramai! […]” Satu penggalan puisi dalam film “Ada Apa dengan Cinta”. Puisi ini secara apik dibacakan oleh sosok Cinta yang mengaransemen puisi Rangga dengan latar belakang alunan klasik gitar. Film yang diperankan oleh Dian Sastro Wardoyo, sebagai Cinta dan Nicholas Saputra, sebagai Rangga. Saking apiknya, film ini dianggap sebagai tonggak baru kebangkitan dunia perfilman Indonesia yang sebelumnya dunia perfilman Indonesia diwarnai dengan eksploitasi “tubuh perempuan”.

Continue reading

Di Balik Cerita 10 Nopember; Jasin Anak Buton, Si Ahli Penakluk Serangan

Euforia memperingati hari pahlawan pada 10 Nopember hampir terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Khusus di Surabaya, peringatan dimeriahkan dengan Parade Juang di salah satu sudut kota. Dalam parade tersebut digambarkan semangat pertempuran “arek-arek Suroboyo” mempertahakan kemerdekaan dan kedaulatan negerinya.

Continue reading

Press Release Pagi

[…]

Bising kota, keluh peluh masyarakat kota
Kendaraan merayap, asap hitam pekat
Kayuhan sepeda pancal
Bising
Dalam harmoni pekat malam Surabaya
Waktu menunjukkan pukul 19.40
Dan sebentar lagi
Surabaya akan berakhir di pukul 23.00

Sementara aku dan semangat muda lainnya sedang beradu
Merayap di barisan kendaraan yang tiarap
Abai dalam peluh
Kita berkumpul di pukul 20.00 Continue reading

Catatan Kecil yang Berakhir di Warung Kopi

Refleksi Pemoeda…?

Anak-anak kecil itu berlari mengejar bola di lapangan. Tepat lapangan itu cukup luas terbentang di hadapan angkuhnya gedung perpustakaan itu berdiri. Seolah-olah gedung itu sedang mengoralkan diri bahwa dialah yang paling tinggi mencakar langit di areal kampus ini. Ah, lebih baik bercerita yang lain. Ku fokuskan kembali pandangan ke segerombolan anak-anak kecil itu. Sesekali ku perhatikan sejenak dan sempat berkata dalam hati, “langsung tendang boy, jangan kelamaan ngocek bolanya…”. Rasanya aku sangat menikmati pertunjukan sepak bola yang didemonstrasikan anak-anak ini. Lalu aku membayangkan dan membandingkan, menyaksikan pertandingan sekelas teri seperti ini saja sudah cukup menarik bagiku, bagaimana kalau menyaksikan langsung pertandingan sepak bola kelas dunia di Old Trafford atau di Nou Camp sana ya…? Continue reading