Pandji, Seniman, dan Politik

Seniman. Tidak hanya menghibur masyarakat. Lebih dari itu, mereka sangat dibutuhkan untuk membantu, menjaga bahkan menciptakan peradaban sosial dan budaya di masyarakat. Peran-peran ini terekspresi dari karya dan aksi-aksi mereka untuk menyuarakan fenomena, pesan, bahkan juga tangisan masyarakat.

Dalam film “2012” (dunia berakhir 21 Desember 2012), film yang mengisahkan bagaimana manusia berusaha menyelamatkan peradaban manusia dari bencana sangat besar di planet bumi (hampir-hampir mirip kiamatlah), garapan sutradara Roland Emmerich. Film ini juga menyinggung tentang seniman. Dalam suatu adegan, Presiden (Amerika) yang diperankan oleh Danny Glover, mengatakan urutan orang-orang yang perlu diselamatkan adalah para seniman & budayawan, selanjutnya ilmuwan & akademisi, profesional, dan terakhir adalah politisi (dialog antara Presiden Amerika dengan putrinya yang diperankan oleh Thandie Newton). Singkat kata dalam film tersebut, sang Presiden akhirnya memilih berada di sisi rakyatnya yang tak bisa diselamatkan (mungkin karena menganggap dirinya adalah politisi).

Jadi pentingnya peran seniman, mereka sangat dibutuhkan hadir di masyarakat. Mereka bisa mengolah rasa & mampu memberi asa.

Sederet nama seniman yang sudah melekat dan sering menyisipkan pesan & protes sosial dalam karya-karya mereka, seperti Iwan Fals, Slank, Ahmad Dhani, & lain-lain. Seniman yang sekaligus budayawan ada Cak Nun, Taufik Ismail, Butet, & sederet nama lainnya. Mereka menciptakan karya sesuai background seni mereka masing-masing. Ya, beberapa nama yang saya sebutkan, saat ini sudah berubah haluan. Masih ada yang konsisten dan masih menjadi seniman juga. Tapi sepertinya karya mereka sudah berbeda, khususnya dalam pesan-pesan sosial dan keberpihakan. Penilaian pribadi saya, perubahan sikap & konsistensi keberpihakan sangat terlihat setelah para seniman tereksploitasi atau mengeksploitasikan diri dalam politik. Sebagian mungkin cuma ikut-ikut. Sebagian lainnya mengambil/memainkan peran. Ya, begitulah politik. Bukankah politik salah satunya tentang keberpihakan & perubahan? Keberpihakannya ke siapa dan ke mana? Saya rasa apa pun latar belakang anda, anda bisa menilai sendiri. Jadi jangan membenci politik. Kalau perlu (jika memiliki idealisme) & merasa sudah waktunya, terlibatlah dalam peran-peran politik di masyarakat (tidak bermaksud “sok” bijak).

Bagaimana dengan seniman muda? Sudah muncul beberapa nama generasi seniman muda yang memiliki idealisme dan menyisipkan pesan-pesan sosial dalam karya-karya mereka. Nah, yang sudah cukup dikenal & menarik perhatian saya adalah mas Pandji Pragiwaksono. Mas Pandji mungkin lebih dikenal sebagai komedian (komika). Tapi saya menyebut mas Pandji sebagai seniman. Saya cukup mengikuti karya-karyanya. Kesan pertama terhadap mas Pandji, ketika ia menciptakan lagu “Kami Tidak Takut“, sebuah lagu bergenre rap, yang menyampaikan pesan perlawanan terhadap terorisme. Kesan menarik berikutnya, mas Pandji menulis buku yang berjudul “Nasional.Is.Me“. Buku, hasil karya yang cerdas sekali. Dengan gaya (style) mas Pandji, iamenyuarakan idealisme dengan cara & sudut pandang yang berbeda. Renyah, gurih, & fresh (youth representation).

Hari ini Pandji Pragiwaksono sering muncul dalam perhelatan politik di Jakarta. Bahkan ia didaulat sebagai juru bicara (official spokesman) oleh salah satu pasangan kandidat yang bertarung di Pilkada DKI. Memang banyak seniman & budayawan yang terlibat, tapi yang menarik menurut saya mas Pandji tidak dalam posisi tereksploitasi, melainkan mengeksploitasikan diri (as a subject not object) & terlibat lebih jauh terhadap pesan & pilihan yang ingin disuarakan.

Perhelatan politik di Jakarta menarik perhatian banyak orang (center of public attention). Bahkan tidak hanya warga Jakarta saja, tapi hampir seluruh Indonesia. Nah, Pandji Pragiwaksono, saya tertarik ingin mengetahui alasannya ikut aktif terlibat dalam perhelatan politik DKI. Dan saya ingin mengatakan, kalau saat ini Pandji menjadi salah satu potret atau ikon seniman muda yang punya kepedulian terhadap negeri. Semoga mas Pandji tetap konsisten. Link di bawah ini menarik untuk disimak yang menyampaikan beberapa alasan ia terlibat dalam pilkada DKI Jakarta. Recommended & patut dibaca.

Lihat : Saya Dibayar Anies Baswedan.

Tidak hanya DKI Jakarta, beberapa daerah di Indonesia sedang menghelat pemilihan kepala daerah. Tapi DKI Jakarta, paling menarik perhatian publik. Mungkin karna Jakarta bisa dikatakan sebagai potret & miniatur Indonesia. Pilkada DKI berlangsung sangat dinamis, meskipun banyak informasi, fakta, hoax, & juga satir menjadi potret yang tidak terlepas dari politik. Memang sangat disayangkan & perlu dievaluasi. Tapi inilah bagian dari proses demokrasi. Negara kita sedang membangun dan menjalankan iklim demokrasi untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Kedewasaan berpolitik, adalah proses. Semoga dihasilkan pemimpin-pemimpin yang baik sesuai dengan kebutuhan rakyat serta tidak mengkhianati cita-cita negeri ini dibangun, yakni berpihak & melindungi segenap rakyat serta seluruh tumpah darah Indonesia. Oh ya, dan untuk mas Pandji, Go a head!!!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s