Kitab Negarakertagama: Teks dan Terjemahan

 

Pernahkah anda membayangkan, bagaimana bisa kita yang berbeda suku (bangsa), bahasa dan tersebar di ribuan pulau pada wilayah yang panjang bentangan luasnya melebihi bentang luas benua Eropa bisa menjadi satu bangsa? Semuanya tak dapat dilepaskan dari perkara yang telah terjadi di masa lampau. Sejarahlah yang membuat kita berdaulat sebagai satu bangsa. Oleh para pendiri bangsa, para anak-anak muda (jong) dalam satu forum telah mendeklarasikan diri, bersumpah untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai lahirnya Soempah Pemoeda[1] . Maka pantaslah jika kita harus senantiasa mengenang, mengingat-ingat jasa perjungan para pahlawan, pendiri bangsa kita bahwa kitalah generasi pewaris, pemegang mandataris yang sah negeri ini.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri”

– Ir. Soekarno –
Proklamator dan Presiden I Republik Indonesia

Sepantasnya apa yang disampaikan oleh Soekarno, sang proklamator adalah benar adanya. Penting untuk mengetahui sejarah karena dari sejarah kita dapat mengambil pelajaran, hikmah, kebijaksanaan dari peristiwa-peristiwa di masa lampau. Dan sejarah akan menentukan apa yang terjadi saat ini dan selanjutnya keputusan yang kita ambil saat ini akan menentukan peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Maka begitulah sejarah selalu bertalian dengan masa depan sebagaimana Victor Hugo, penulis berkebangsaan Perancis (1802-1885) mengatakan bahwa sejarah merupakan pengulangan masa lalu di masa depan; refleksi dari masa depan pada masa lalu.

Dalam catatan sejarah Nusa2ntara[2], salah satu catatan peristiwa yang termasyhur adalah dideklarasikannya sumpah yang dikenal dengan Hamukti Palapa[3], sebuah sumpah penyatuan Nusantara. Adalah Gajah Mada seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman Kerajaan Majapahit. Gagasan penyatuan Nusantara ini dikemukakan pada upacara pengangkatannya sebagai Patih Amangkubumi (Perdana Menteri) Majapahit, tahun 1258 Saka[4] (1336 M) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi[5]. Peristiwa ini diabadikan dalam sebuah teks Jawa Pertengahan Pararaton[6], yang berbunyi,

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa

Setelah pengangkatannya inilah yang mengantarkan kerajaan Majapahit menuju puncak kejayaannya. Penyatuan Nusantara dilakukan sampai pada masa Prabu Hayam Wuruk[7]  menggantikan Tribhuwanatunggadewi.

Penyatuan Nusantara dicatatkan dalam Kitab Negarakertagama (Kakawin Negarakertagama) yang ditulis pada masa Prabu Hayam Wuruk oleh Mpu Prapanca[8] (nama pena/samaran). Namasi aslinya ialah Dang Acarya Nadendra, seorang bekas pembesar urusan agama Buddha di istana Majapahit. Naskah yang ditulis pada daun lontar ini diselesaikan oleh Mpu Prapanca pada bulan Aswina 1287 tahun Saka (September-Oktober 1365 M) diusianya yang senja dalam pertapaan di lereng gunung di desa Kamalasana. Motivasi penulisan naskah ini sebagai bentuk penghormatan dan pengagungannya kepada Sri Rajasanagara alias Prabu Hayam Wuruk.

Kitab Negarakertagama

Kakawin Negarakertagama

Naskah ini petama kali ditemukan di kediaman raja Karangasem, penguasa Lombok yang diamankan sebelum penyerangan dan jatuhnya Puri Cakranegara oleh VOC-Belanda pada tahun 1894. Awalnya, manuskrip ini dibawa oleh VOC ke Belanda, namun kemudian diserahkan kembali ketika kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1970an[9] dan disimpan di Perpusatakaan Nasional RI. Pada tanggal 21 Februari 2008, UNESCO menetapkan Kitab Negarakertagama sebagai warisan sejarah dunia yang terdaftar dalam the Memory of the World Regional Register for Asia/Pacific.

Pertama kali diterbitkan oleh Dr. J.L.A Brandes dengan judul Nāgarakrětāgama; Lofdicht van Prapanjtja op koning Radjasanagara, Hajam Wuruk, van Madjapahit, naar het eenige daarvan bekende handschrift, aangetroffen in de puri te Tjakranagara op Lombok, VBG LIV, 1902. Penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia mengikuti terjemahan yang dibuat oleh Prof. DR. Slamet Mulyana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Sedangkan dalam bahasa Inggris mengikuti penerjemahan Theodor Pigeaud, “14Java in the 14th Century. A Study in Cultural History”, 5 vols., The Hague 1960-1963. Terjemahan ini sudah dibandingkan dengan edisi penerjemahan terbaru oleh I Ketut Riana, “Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagarakretagama, Masa Keemasan Majapahit”, Jakarta: Kompas 2009[10].

Kitab Negarakertagama (Kakawin Nagarakretagama) atau yang judul aslinya Kakawin Desawarnana merupakan uraian tentang desa-desa. Kakawin ini menguraikan keadaan kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Pembagian isi kitab Negarakertagama dijabarkan sebagai berikut[11]:

  1. Pupuh 1-7, Pemaparan Keluarga Kerajaan Majapahit dengan Rajasanagara sebagai penguasa kekaisaran.
    The royal family of Majapahit with Rajasanagara as the ruler of this Empire is presented.
  2. Pupuh 8-12, Ibu Kota Majapahit.
    The Capital Majapahit.
  3. Pupuh 13-16, Tribunal[12] dan wilayah sekitar Majapahit dengan iuraan serta tugas dan tanggung jawab uturan.
    The tributaries and neigbours of Majapahit, with their dues are listet. Also the duties and responsibilities of the emissaries, who belong to the ecclesiastical officers of Majapahit, are explained.
  4. Pupuh 17-38, Kemajuan Kerajaan Majapahit pada tahun 1359 M dan kembali ke Singasari.
    The Royal Progress of 1359, from Majapahit through the eastern districts of Java, and back to Singasari.
  5. Pupuh 39-49, Penjelasan Raja-raja dari rumah Rajasanagara dan agama.
    the Kings of the house of Rajasa from 1182 till 1343 and their religious domains are described.
  6. Pupuh 50-54, Pengejaran kerajaan di lingkungan Singasari.
    The royal chase in the neighbourhood of Singasari.
  7. Pupuh 55-60, Pengalaman pangeran dan kepulangannya dengan pangeran kerajaan lainnya, dari Singasari sampai Majapahit.
    Royal progress of 1359: The experiences of the prince and his return with the other princes of javanese royal families, from Singasari to Majapahit.
  8. Pupuh 61-62, Kemajuan kerajaan pada tahun 1360 dan 1361.
    The Royal Progresses Of 1360 And 1361 to Tirib, Sömpur and Blitar.
  9. Pupuh 63-69, Deskripsi upacara anumerta tahun 1362.
    Description of the posthumous ceremony in 1362, celebrated in honour of the Rajapatni.
  10. Pupuh 70, Kemajuan kerajaan dari Majapahit ke Simping dan kembalinya.
    The Royal Progress Of 1363 from Majapahit to Simping and back.
  11. Pupuh 71-72, Setelah kematian Gajah Mada.
    After the dead of Gajah Mada in 1364, the Princes′ conference decides about the new officials.
  12. Pupuh 73-78, Kepemilikan keluarga kerajaan dan komunitas agama.
    List of Domains belonging to the Royal Family and to religious communities.
  13. Pupuh 79-82, Penjelasan organisasi pendeta dan keluarga kerajaan.
    The organisation of the clergy and the royal family is described.
  14. Pupuh 83-91, Festival Pengadilan Tahunan.
    The Annual Court Festival In Majapahit.
  15. Pupuh 92-98, Pemuliaan raja dan kekaisaran Majapahit.
    The poetically narrated tale about the Empire of Majapahit concludes with a glorification of the king in 1365.

Teks terjemahan lengkap, silahkan unduh pada link ini.

Demikian sekilas tentang Naskah Kitab Negarakertagama. Sekedar mengingatkan kembali. Mengetahui sejarah  peradaban nusantara akan memahamkan kita pada jati diri bangsa bahwa kita adalah bangsa yang besar. Sejarah adalah identitas. Semoga bermanfaat..

Catatan Kaki 

[1] Sumpah Pemuda
[2] Nusantara adalah Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua, yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah negara Indonesia.
[3] Hamukti Palapa : Sumpah Palapa
[4] Tahun Saka : Nama Bulan dan Tahun Penanggalan Jawa Kuno
[5] Tribhuwanatunggadewi
[6] Pararaton
[7] Prabu Hayam Wuruk
[8] Mpu Prapanca
[9] Kitab Negarakertagama: Naskah Asli dan Terjemahannya
[10] Naskah Negarakertagama
[11] Teks Naskah Negarakertagama
[12] Tribunal adalah sembarang orang atau pranata dengan kewenangan menghakimi, meninjau bukti-bukti, kesaksian, dan argumen untuk menentukan klaim atau sengketa–apakah ia disebut sebuah tribunal dalam judulnya, atau bukan.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s